BETRAYER
CAST : T Kim Myung Soo.
T Son Naeun.
T No Min Woo.
T Yoon Bomi.
Title: Betrayer.
AUTHOR : DITHA APRILLIA DAHLAN.
Pagi yang cerah di Seoul International High School. Matahari yang
bersinar cerah, langit berwarna biru muda dan dihiasi awan-awan putih. Mungkin
ini adalah hari yang sempurna bagi sebagian orang. Namun tidak dengan yeoja
cantik ini. Dia berlari melewati setiap kelas menuju ke kelasnya. Sesampainya
di kelas dia melihat Choi Saengnim guru matematikanya yang sangat membenci
siswa yang datang terlambat.
"Son
Naeun!!! Kau terlambat 15 menit!!!" Choi Saengnim berkata
"Mianhae, Jongmal Mianhaeyo Choi Saengnim." Yeoja berkata dan meminta maaf
"Mianhae, Jongmal Mianhaeyo Choi Saengnim." Yeoja berkata dan meminta maaf
"Sebagai hukumannya, kau harus
membersihkan toilet sampai pelajaran ini selesai!!!" Choi Saengnim berkata
dan Yeoja itu pun hanya dapat menunduk, menuruti perkataan Choi Saengnim dan
menerima hukumannya.
Son Naeun. Itulah nama dari yeoja itu. Dia bangun terlambat dan membuatnya terlambat datang ke sekolah. Karena tadi malam Minwoo menelponnya sampai larut malam. Minwoo atau No MinWoo adalah Namjachingunya. Mereka sudah menjalin hubungan mereka sejak kelas 1 hingga saat ini mereka masih saling mencintai.
Setelah pelajaran Choi Saengnim selesai, Naeun pun kembali ke kelasnya. Dia langsung duduk di bangkunya tanpa menghiraukan Bomi sahabatnya yang menatapnya dengan heran.
"Mengapa kau terlambat Naeun?" Bomi bertanya.
"Aku terlambat bangun gara-gara Bomi menelponku sampai larut malam. Dan pada akhirnya aku harus menerima hukuman dari Choi Saengnim yang killer itu." Naeun berkata kesal. Dia sangat kesal dengan Songsaengnimnya itu. Naeun tahu dia salah. Tapi apakah dia harus menerima hukuman seperti itu karena terlambat datang ke sekolah?
"Sebaiknya kau bilang pada Namjachingumu itu. Jangan terlalu larut jika ingin menelponmu hahaha." Bomi berkata dan tertawa
"Yah! Jangan menertawakanku seperti itu... Aku juga tidak tahu kenapa. Akhir-akhir ini dia selalu menelponku larut malam. Huft... Tapi biarlah. Yang penting dia masih sempat untuk menelponku." Naeun berkata sambil tersenyum.
Bomi sebenarnya sedikit merasa iri dengan Naeun. Dia memiliki Minwoo yang selalu mencintainya. Jujur,,, sebenarnya dia menyimpan perasaannya terhadap Minwoo. Berharap dia akan meliriknya. Namun dia masih menyimpannya karena dia sadar Minwoo masih milik Naeun. Dia akan menunggu. Menunggu sampai Bomi menyadari kehadirannya.
Son Naeun. Itulah nama dari yeoja itu. Dia bangun terlambat dan membuatnya terlambat datang ke sekolah. Karena tadi malam Minwoo menelponnya sampai larut malam. Minwoo atau No MinWoo adalah Namjachingunya. Mereka sudah menjalin hubungan mereka sejak kelas 1 hingga saat ini mereka masih saling mencintai.
Setelah pelajaran Choi Saengnim selesai, Naeun pun kembali ke kelasnya. Dia langsung duduk di bangkunya tanpa menghiraukan Bomi sahabatnya yang menatapnya dengan heran.
"Mengapa kau terlambat Naeun?" Bomi bertanya.
"Aku terlambat bangun gara-gara Bomi menelponku sampai larut malam. Dan pada akhirnya aku harus menerima hukuman dari Choi Saengnim yang killer itu." Naeun berkata kesal. Dia sangat kesal dengan Songsaengnimnya itu. Naeun tahu dia salah. Tapi apakah dia harus menerima hukuman seperti itu karena terlambat datang ke sekolah?
"Sebaiknya kau bilang pada Namjachingumu itu. Jangan terlalu larut jika ingin menelponmu hahaha." Bomi berkata dan tertawa
"Yah! Jangan menertawakanku seperti itu... Aku juga tidak tahu kenapa. Akhir-akhir ini dia selalu menelponku larut malam. Huft... Tapi biarlah. Yang penting dia masih sempat untuk menelponku." Naeun berkata sambil tersenyum.
Bomi sebenarnya sedikit merasa iri dengan Naeun. Dia memiliki Minwoo yang selalu mencintainya. Jujur,,, sebenarnya dia menyimpan perasaannya terhadap Minwoo. Berharap dia akan meliriknya. Namun dia masih menyimpannya karena dia sadar Minwoo masih milik Naeun. Dia akan menunggu. Menunggu sampai Bomi menyadari kehadirannya.
"Bomi-ah... Gwenchanayo?" Naeun berkata dan melambai-lambaikan tangannya
di depan wajah Eunji.
"Ah. Oh. Ne? Gwenchana." Eunji berkata. Naeun pun mengerutkan keningnya dan tidak mempermasalahkannya.
"Ah. Oh. Ne? Gwenchana." Eunji berkata. Naeun pun mengerutkan keningnya dan tidak mempermasalahkannya.
Kring.....
Naeun POV
Akhirnya.... Bel istirahat berbunyi juga. Aku sudah tidak tahan dengan pelajaran Park Saengnim. Pelajarannya membuatku sangat mengantuk. Semua siswa berhamburan keluar kelas. Aku melirik Bomi sekilas. Sepertinya ada sesuatu yang ia pikirkan. Aku ingin menanyakannya. Namun, aku tidak ingin menganggunya.
Naeun POV
Akhirnya.... Bel istirahat berbunyi juga. Aku sudah tidak tahan dengan pelajaran Park Saengnim. Pelajarannya membuatku sangat mengantuk. Semua siswa berhamburan keluar kelas. Aku melirik Bomi sekilas. Sepertinya ada sesuatu yang ia pikirkan. Aku ingin menanyakannya. Namun, aku tidak ingin menganggunya.
"Bomi-ah apa kau ingin pergi ke kantin?" Aku bertanya. Kulihat dia
menggeleng dan berkata
"Ani. Kau duluan saja. Nanti aku menyusul."
"Oh.. Ne arasso. Kalau begitu aku pergi dulu." aku berkata dan meninggalkannya disana sendirian.
Naeun POV end
"Ani. Kau duluan saja. Nanti aku menyusul."
"Oh.. Ne arasso. Kalau begitu aku pergi dulu." aku berkata dan meninggalkannya disana sendirian.
Naeun POV end
Bomi POV
aku sedang malas untuk pergi keluar. Entah mengapa tiba-tiba aku memikirkan Minwoo. Aish jinja... No Min Woo.. Mengapa kau ada di pikiranku eoh? Aku jadi gila memikirkan ini semua. Tiba-tiba handphoneku bergetar dan ku lihat ada pesan masuk dari nomor tak di kenal.
aku sedang malas untuk pergi keluar. Entah mengapa tiba-tiba aku memikirkan Minwoo. Aish jinja... No Min Woo.. Mengapa kau ada di pikiranku eoh? Aku jadi gila memikirkan ini semua. Tiba-tiba handphoneku bergetar dan ku lihat ada pesan masuk dari nomor tak di kenal.
From: 0214xxx
Bomi-ah ini aku Minwoo. Bisakah kita bertemu? Aku tunggu kau di atap sekolah sekarang.
Benarkah ini dari Minwoo? Aku memeluk handphoneku dan segera pergi ke atap untuk menemuinya.
Di atap aku melihat dia berdiri menatap pemandangan sekitar. Aigoo~ dia sangat tampan. Tubuhnya yang tinggi dan berotot. Membuat siapapun yang melihatnya akan terpana, seperti halnya denganku. Dia membuatku jadi gila. Aku pun menghampirinya dan dia pun berbalik dan tersenyum manis. Minwoo jangan tersenyum seperti itu. Kau membuatku semakin menyukaimu.
"Kau sudah datang. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan." dia berkata
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
Bomi-ah ini aku Minwoo. Bisakah kita bertemu? Aku tunggu kau di atap sekolah sekarang.
Benarkah ini dari Minwoo? Aku memeluk handphoneku dan segera pergi ke atap untuk menemuinya.
Di atap aku melihat dia berdiri menatap pemandangan sekitar. Aigoo~ dia sangat tampan. Tubuhnya yang tinggi dan berotot. Membuat siapapun yang melihatnya akan terpana, seperti halnya denganku. Dia membuatku jadi gila. Aku pun menghampirinya dan dia pun berbalik dan tersenyum manis. Minwoo jangan tersenyum seperti itu. Kau membuatku semakin menyukaimu.
"Kau sudah datang. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan." dia berkata
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Sebenarnya......" dia menggantungkan kalimatnya membuat aku
semakin penasaran.
"Ne?"
"Sebenarnya aku menyukaimu Yoon Bomi."
"Ne?"
"Sebenarnya aku menyukaimu Yoon Bomi."
Deg...
Jantungku berdetak cepat. Benarkah ini? Minwoo menyukaiku? Jinja? Aaaaa... Minwoo aku sudah menunggumu. Tapi sesaat aku berfikir. Bukankah Minwoo sudah memiliki Naeun?
"Tapi... Bukankah kau sudah memiliki Naeun? Aku tidak enak dengan Naeun." aku berkata. Ku lihat dia terdiam sejenak.
"Arra... Tapi aku hanya ingin memilikimu Bomi-ah." dia berkata dan menempatkanku pada situasi yang sulit.
"Jebal Bomi-ah. Naekkeo haja. Aku akan mencintaimu sepenuh hatiku." dia kembali berkata.
"Tapi bagaimana dengan Naeun?"
"Masalah Naeun, aku akan mengurusnya. Tapi kau mau kan menjadi Yeojachinguku?" dia berkata. Setan dalam hatiku menguasaiku. Karena aku sangat mencintainya. Aku tega mengkhianati sahabatku sendiri. Kau memang kejam Yoon Bomi. Tapi harus bagaimana lagi? Aku juga mencintainya.
Jantungku berdetak cepat. Benarkah ini? Minwoo menyukaiku? Jinja? Aaaaa... Minwoo aku sudah menunggumu. Tapi sesaat aku berfikir. Bukankah Minwoo sudah memiliki Naeun?
"Tapi... Bukankah kau sudah memiliki Naeun? Aku tidak enak dengan Naeun." aku berkata. Ku lihat dia terdiam sejenak.
"Arra... Tapi aku hanya ingin memilikimu Bomi-ah." dia berkata dan menempatkanku pada situasi yang sulit.
"Jebal Bomi-ah. Naekkeo haja. Aku akan mencintaimu sepenuh hatiku." dia kembali berkata.
"Tapi bagaimana dengan Naeun?"
"Masalah Naeun, aku akan mengurusnya. Tapi kau mau kan menjadi Yeojachinguku?" dia berkata. Setan dalam hatiku menguasaiku. Karena aku sangat mencintainya. Aku tega mengkhianati sahabatku sendiri. Kau memang kejam Yoon Bomi. Tapi harus bagaimana lagi? Aku juga mencintainya.
"Bomi-ah. Gwenchanayo?" suaranya membuyarkan lamunanku.
"Oh, Ne? Gwenchana."
"Jadi apa keputusanmu?"
"Karena aku mencintaimu. Aku mau menjadi yeojachingumu."
"Gomawo Bomi-ah. Saranghae.." dia berkata dan langsung memelukku.
"Nado saranghae Bomi-ah." aku berkata dan membalas pelukannya. Mianhae Naeun. Aku bukan sahabat yang baik untukmu.
Eunji POV end
Author POV
Kring....
Bel masuk pun berbunyi semua siswa memasuki kelasnya masing-masing. Termasuk Naeun dan Bomi. Mereka memasuki ruangan kelas mereka. Han Saengnim pun memasuki kelasnya di ikuti dengan seorang namja yang kyeopta. Membuat setiap yeoja yang melihatnya terpana. Tapi tidak dengan Bomi dan Naeun. Mereka biasa menanggapi namja itu.
"Oh, Ne? Gwenchana."
"Jadi apa keputusanmu?"
"Karena aku mencintaimu. Aku mau menjadi yeojachingumu."
"Gomawo Bomi-ah. Saranghae.." dia berkata dan langsung memelukku.
"Nado saranghae Bomi-ah." aku berkata dan membalas pelukannya. Mianhae Naeun. Aku bukan sahabat yang baik untukmu.
Eunji POV end
Author POV
Kring....
Bel masuk pun berbunyi semua siswa memasuki kelasnya masing-masing. Termasuk Naeun dan Bomi. Mereka memasuki ruangan kelas mereka. Han Saengnim pun memasuki kelasnya di ikuti dengan seorang namja yang kyeopta. Membuat setiap yeoja yang melihatnya terpana. Tapi tidak dengan Bomi dan Naeun. Mereka biasa menanggapi namja itu.
"Hari ini kita kedatangan murid baru. Perkenalkan dirimu." Han
Saengnim berkata.
"Annyeong haseyo Kim Myungsoo imnida." Namja yang bernama Myungsoo itu memperkenalkan dirinya.
"Baiklah kau duduk di belakang Naeun dan Bomi." Han Saengnim berkata dan Myungsoo pun duduk di belakang
Naeun dan Bomi. Dia pun mengikuti pelajaran hari ini
Kring....
Bel pulang pun berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar kelas termasuk Naeun. Hari ini Bomi tidak pulang bersamanya. Naeun pun memutuskan untuk pulang sendiri. Namun tiba-tiba ada seorang namja yang ada di sampingnya.
"Kim Myungsoo?" Naeun berkata. Ternyata Myungsoo lah yang ada di dekatnya.
"Ne?" Myungsoo berkata
"Sedang apa kau disini?"
"Tentu saja pulang ke rumah. Oh iya kau Naeun kan?" Myungsoo berkata
"Ne, Son Naeun imnida."
"Kajja kita pulang bersama." Myungsoo berkata dan menarik tangan Naeun. Naeun pun pulang bersama Myungsoo dengan menaiki motornya. Myungsoo mencari-cari kesempatan dan mempercepat laju motornya. Sehingga Naeun langsung memeluknya dengan erat. Myungsoo tersenyum senang.
Akhirnya mereka pun sampai di rumah Naeun. Naeun merapihkan rambutnya yang berantakan karena menaiki motor tadi.
"Micheosso? Kau melajukan motor dengan kecepatan 100 km/jam." Naeun berkata dia sangat kesal dengan Myungsoo yang membawa motornya dengan kecepatan secepat itu.
"Mianhae... Aku tidak akan mengulanginya lagi. Oh iya setiap pagi saat berangkat sekolah aku akan menjemputmu. Rumahku tidak jauh dari sini." Myungsoo berkat
"Ta.. Tapi.." Naeun berkata
"Sudahlah tak usah kau pikirkan. Pokoknya aku akan menjemputmu setiap pagi. Bye." Myungsoo berkata dan pergi meninggalkan Naeun.
"Eottokkhae? Apa yang akan Minwoo katakan jika aku pergi bersama namja lain?" Naeun berkata dan masuk ke dalam rumahnya.
"Annyeong haseyo Kim Myungsoo imnida." Namja yang bernama Myungsoo itu memperkenalkan dirinya.
"Baiklah kau duduk di belakang Naeun dan Bomi." Han Saengnim berkata dan Myungsoo pun duduk di belakang
Naeun dan Bomi. Dia pun mengikuti pelajaran hari ini
Kring....
Bel pulang pun berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar kelas termasuk Naeun. Hari ini Bomi tidak pulang bersamanya. Naeun pun memutuskan untuk pulang sendiri. Namun tiba-tiba ada seorang namja yang ada di sampingnya.
"Kim Myungsoo?" Naeun berkata. Ternyata Myungsoo lah yang ada di dekatnya.
"Ne?" Myungsoo berkata
"Sedang apa kau disini?"
"Tentu saja pulang ke rumah. Oh iya kau Naeun kan?" Myungsoo berkata
"Ne, Son Naeun imnida."
"Kajja kita pulang bersama." Myungsoo berkata dan menarik tangan Naeun. Naeun pun pulang bersama Myungsoo dengan menaiki motornya. Myungsoo mencari-cari kesempatan dan mempercepat laju motornya. Sehingga Naeun langsung memeluknya dengan erat. Myungsoo tersenyum senang.
Akhirnya mereka pun sampai di rumah Naeun. Naeun merapihkan rambutnya yang berantakan karena menaiki motor tadi.
"Micheosso? Kau melajukan motor dengan kecepatan 100 km/jam." Naeun berkata dia sangat kesal dengan Myungsoo yang membawa motornya dengan kecepatan secepat itu.
"Mianhae... Aku tidak akan mengulanginya lagi. Oh iya setiap pagi saat berangkat sekolah aku akan menjemputmu. Rumahku tidak jauh dari sini." Myungsoo berkat
"Ta.. Tapi.." Naeun berkata
"Sudahlah tak usah kau pikirkan. Pokoknya aku akan menjemputmu setiap pagi. Bye." Myungsoo berkata dan pergi meninggalkan Naeun.
"Eottokkhae? Apa yang akan Minwoo katakan jika aku pergi bersama namja lain?" Naeun berkata dan masuk ke dalam rumahnya.
©©©©
Keesokan harinya Myungsoo menjemput Naeun. Namun kali ini dia tidak membawa sepedah motornya. Dia membawa mobil sport berwarna hitam kesukaannya. Naeun pun keluar dari rumahnya dan menemukan Myungsoo sudah ada di depan rumahnya.
"Son Naeun... Kajja kita berangkat!!!" Myungsoo yang berada di dalam mobil berseru kepada Naeun dan Naeun pun masuk ke dalam mobil Myungsoo. di perjalanan Naeun memikirkan sesuatu. dia memikirkan Minwoo yang dari kemarin tidak menghubunginya
“Naeun-ssi. Waeyo? Kau tampak murung hari ini.” Myungsoo bertanya dan membuat Naeun menoleh ke arahnya.
“Aniyo… Aku hanya memikirkan seseorang.” Naeun menjawab
“Nugu?” Myungsoo bertanya, membuat Naeun tersentak kaget.
“Secret” Naeun menjawab dan tertawa lepas
“Wae? Kenapa kau tertawa?” Myungsoo bertanya membuat Naeun menghentikan tawanya.
“Kau lucu Myungsoo-ssi hahaha” Naeun kembali tertawa dan Myungsoo pun hanya diam dan cemberut.
“Omo… Kim Myungsoo. Kau marah padaku eoh?” Naeun bertanya. Myungsoo pun tidak menjawab. Mereka sudah sampai di sekolah. Namun Myungsoo tidak berkata sepatah kata pun setelah kejadian tadi.
“Yah Kim Myungsoo! Kau tidak menjawab pertanyaanku. Kau marah padaku eoh?” Naeun kembali bertanya dan Myungsoo pun mendekat ke arahnya. Naeun sedikit terkejut. Jarak mereka sangat dekat sekarang.
Keesokan harinya Myungsoo menjemput Naeun. Namun kali ini dia tidak membawa sepedah motornya. Dia membawa mobil sport berwarna hitam kesukaannya. Naeun pun keluar dari rumahnya dan menemukan Myungsoo sudah ada di depan rumahnya.
"Son Naeun... Kajja kita berangkat!!!" Myungsoo yang berada di dalam mobil berseru kepada Naeun dan Naeun pun masuk ke dalam mobil Myungsoo. di perjalanan Naeun memikirkan sesuatu. dia memikirkan Minwoo yang dari kemarin tidak menghubunginya
“Naeun-ssi. Waeyo? Kau tampak murung hari ini.” Myungsoo bertanya dan membuat Naeun menoleh ke arahnya.
“Aniyo… Aku hanya memikirkan seseorang.” Naeun menjawab
“Nugu?” Myungsoo bertanya, membuat Naeun tersentak kaget.
“Secret” Naeun menjawab dan tertawa lepas
“Wae? Kenapa kau tertawa?” Myungsoo bertanya membuat Naeun menghentikan tawanya.
“Kau lucu Myungsoo-ssi hahaha” Naeun kembali tertawa dan Myungsoo pun hanya diam dan cemberut.
“Omo… Kim Myungsoo. Kau marah padaku eoh?” Naeun bertanya. Myungsoo pun tidak menjawab. Mereka sudah sampai di sekolah. Namun Myungsoo tidak berkata sepatah kata pun setelah kejadian tadi.
“Yah Kim Myungsoo! Kau tidak menjawab pertanyaanku. Kau marah padaku eoh?” Naeun kembali bertanya dan Myungsoo pun mendekat ke arahnya. Naeun sedikit terkejut. Jarak mereka sangat dekat sekarang.
“Lain kali kau jangan memancing emosiku. Aku bisa melakukan yang lebih
dari ini.” Myungsoo berkata saat jarak mereka sangat dekat. Naeun pun menelan
ludah dan hanya bisa mengangguk.
“Bagus. Kalau begitu kajja kita ke kelas.” Myungsoo berkata dan mereka pun keluar dari mobil Myungsoo.
Saat di kelas Naeun tidak dapat berkonsentrasi pada pelajaran hari ini. Dia masih mengingat kejadian saat di mobil Myungsoo. Kata-kata Myungsoo masih terngiang di pikirannya
“AKU BISA MELAKUKAN YANG LEBIH DARI INI”
Naeun pun menggelengkan kepalanya dan kembali fokus pada pelajaran
“Bagus. Kalau begitu kajja kita ke kelas.” Myungsoo berkata dan mereka pun keluar dari mobil Myungsoo.
Saat di kelas Naeun tidak dapat berkonsentrasi pada pelajaran hari ini. Dia masih mengingat kejadian saat di mobil Myungsoo. Kata-kata Myungsoo masih terngiang di pikirannya
“AKU BISA MELAKUKAN YANG LEBIH DARI INI”
Naeun pun menggelengkan kepalanya dan kembali fokus pada pelajaran
Kringg…..
Bel istirahat pun berbunyi. Naeun yang akan keluar kelas merasakan handphonenya bergetar dan mendapat pesan dari Minwoo.
From: Minwoo
Chagi….. Bisakah kau pergi ke atap sekolah? Aku sangat merindukanmu.
Naeun pun tersenyum. Saat dia akan pergi ke atap, Myungsoo menahan tangannya.
Bel istirahat pun berbunyi. Naeun yang akan keluar kelas merasakan handphonenya bergetar dan mendapat pesan dari Minwoo.
From: Minwoo
Chagi….. Bisakah kau pergi ke atap sekolah? Aku sangat merindukanmu.
Naeun pun tersenyum. Saat dia akan pergi ke atap, Myungsoo menahan tangannya.
“Eodigayo?” Myungsoo bertanya.
“Aku akan pergi ke atap sekolah menemui seseorang.” Naeun menjawab.
“Oh…” Myungsoo berkata dan melepasakan tangan Naeun. Naeun pun segera berlari menuju atap sekolah. Saat Naeun sudah agak jauh Myungsoo pun diam-diam mengikuti Naeun menuju atap sekolah.
Sesampainya di atap kelas. Naeun terpaku melihat kedua orang di hadapannya. Dia melihat Minwoo namjachingunya sedang memeluk Bomi sahabatnya sendiri. Bagaikan petir di siang bolong, dia merasakan sakit yang teramat dalam.
“Jadi ini yang namanya seorang sahabat? Huh!! Omong kosong!!” Naeun berkata. Minwoo dan Bomi pun kaget melihat kedatangan Naeun yang tiba-tiba. Myungsoo yang tidak jauh dari sana mendengar perkataan Naeun.
“Naeun…. Ini tidak seperti apa yang kau bayangkan” Bomi berusaha meyakinkan Naeun.
“Bomi benar Naeun. Kau salah sangka.” Minwoo mengiyakan perkataan Bomi.
“CUKUP!!!! Aku muak dengan semua ini. Kau Bomi…!! Aku fikir kau sahabat terbaik untukku. Tapi kenyataannya kau sama saja. Kau pengkhianat!!” Naeun berkata penuh emosi.
“Dan kau Minwoo…. Aku fikir kau namja yang baik…. Tapi dugaanku salah. Kau sama saja dengan namja lain yang senang mempermainkan hati setiap yeoja. Mulai hari ini hubungan kita cukup sampai disini.” Naeun berkata dan melepaskan cincin pemberian Minwoo. Naeun pun mendekati Minwoo dan Bomi. Dan…..
“Aku akan pergi ke atap sekolah menemui seseorang.” Naeun menjawab.
“Oh…” Myungsoo berkata dan melepasakan tangan Naeun. Naeun pun segera berlari menuju atap sekolah. Saat Naeun sudah agak jauh Myungsoo pun diam-diam mengikuti Naeun menuju atap sekolah.
Sesampainya di atap kelas. Naeun terpaku melihat kedua orang di hadapannya. Dia melihat Minwoo namjachingunya sedang memeluk Bomi sahabatnya sendiri. Bagaikan petir di siang bolong, dia merasakan sakit yang teramat dalam.
“Jadi ini yang namanya seorang sahabat? Huh!! Omong kosong!!” Naeun berkata. Minwoo dan Bomi pun kaget melihat kedatangan Naeun yang tiba-tiba. Myungsoo yang tidak jauh dari sana mendengar perkataan Naeun.
“Naeun…. Ini tidak seperti apa yang kau bayangkan” Bomi berusaha meyakinkan Naeun.
“Bomi benar Naeun. Kau salah sangka.” Minwoo mengiyakan perkataan Bomi.
“CUKUP!!!! Aku muak dengan semua ini. Kau Bomi…!! Aku fikir kau sahabat terbaik untukku. Tapi kenyataannya kau sama saja. Kau pengkhianat!!” Naeun berkata penuh emosi.
“Dan kau Minwoo…. Aku fikir kau namja yang baik…. Tapi dugaanku salah. Kau sama saja dengan namja lain yang senang mempermainkan hati setiap yeoja. Mulai hari ini hubungan kita cukup sampai disini.” Naeun berkata dan melepaskan cincin pemberian Minwoo. Naeun pun mendekati Minwoo dan Bomi. Dan…..
Plakk….
Tangan Naeun menampar Minwoo dengan keras membuat pipi namja itu merah karena tamparan Naeun.
“Rasa sakit di pipimu. Tidak seberapa daripada rasa sakit di hatiku.”
Naeun berkata
“Terimakasih untuk waktu 2 tahun yang kau habiskan bersamaku. Semoga kalian bahagia. Jangan pernah kalian menampakkan wajah kalian dihadapanku. Aku muak dengan kalian!” Naeun berkata dan meninggalkan mereka berdua.
Myungsoo yang berada disana pun segera bersembunyi di bawah tangga. Saat Naeun datang, Naeun berhenti dan mulai menangis. Myungsoo yang melihatnya sangat geram kepada Minwoo. Saat di depan Minwoo, Naeun terlihat kuat. Namun pada kenyataannya, Naeun sangat rapuh dan terluka. Myungsoo pun menarik tangan Naeun, membuat yeoja itu terkejut.
“Kim Myung….. eumph” Naeun berkata namun Myungsoo membekap mulut Naeun dan menyuruhnya untuk tidak bersuara.
“Sssstttttt…..” Myungsoo berkata
“Terimakasih untuk waktu 2 tahun yang kau habiskan bersamaku. Semoga kalian bahagia. Jangan pernah kalian menampakkan wajah kalian dihadapanku. Aku muak dengan kalian!” Naeun berkata dan meninggalkan mereka berdua.
Myungsoo yang berada disana pun segera bersembunyi di bawah tangga. Saat Naeun datang, Naeun berhenti dan mulai menangis. Myungsoo yang melihatnya sangat geram kepada Minwoo. Saat di depan Minwoo, Naeun terlihat kuat. Namun pada kenyataannya, Naeun sangat rapuh dan terluka. Myungsoo pun menarik tangan Naeun, membuat yeoja itu terkejut.
“Kim Myung….. eumph” Naeun berkata namun Myungsoo membekap mulut Naeun dan menyuruhnya untuk tidak bersuara.
“Sssstttttt…..” Myungsoo berkata
“Jangan bicara terlalu keras. Kau ingin mereka tahu jika kau menangis.”
Myungsoo berkata dan Naeun pun terdiam. Myungsoo benar, dia tidak boleh
terlihat lemah di depan mereka.
Suasana pun menjadi hening. Mereka sama-sama terdiam, bergelut dalam pikiran masing-masing. Hingga tatapan mereka bertemu, cukup lama mereka saling menatap dan Myungsoo pun mendekatkan wajahnya. Jarak mereka semakin dekat dan semakin dekat.
“Saranghae Son Naeun….” Myungsoo berkata, Naeun pun terkejut mendengarnya
“Mw..” Ucapan Naeun terhenti, ketika Myungsoo langsung memeluk tubuh mungil yeoja itu. Setelah itu Myungsoo pun melepaskan pelukannya. Pipi Naeun pun memerah dan terasa panas.
“Saranghae Naeun-ah….” Myunsoo berkata
“Nado saranghae Myungsoo-ah…” Naeun berkata
Naeun POV
Walaupun hatiku sudah hancur berkeping-keping. Aku merasakan kenyamanan saat berada di dekatnya. Aku memang sudah tersakiti oleh Minwoo dan Bomi. Namun saat dia menciumku, rasa sakit itu perlahan hilang dan mulai tumbuh bunga-bunga yang indah di hatiku. Aku tahu ini gila. Ya, Cinta memang bisa membuat orang menjadi gila. Ku harap, dia akan menjagaku dan menyayangiku tulus dan sepenuh hati. Akan aku anggap kejadian tadi adalah pelajaran untukku. Ku harap aku tidak akan tersakiti lagi. Semoga cinta kita abadi untuk selamanya. Aku mencintaimu Kim Myungsoo
Naeun POV end
Myungsoo POV
Aku tahu dia sedang bersedih. Bahkan bisa di bilang dia sedang jatuh. Hatinya sangat rapuh dan terluka. Aku tidak ingin melihatnya menangis seperti itu. Karena diam-diam aku mulai menyukainya. Dan saat dia jatuh dan terluka, aku datang membawa cinta dan kasih sayangku untuknya. Aku berjanji tidak akan membuatnya menangis lagi. Janji itu akan aku pegang sampai aku mati. Aku mencintaimu Son Naeun
Suasana pun menjadi hening. Mereka sama-sama terdiam, bergelut dalam pikiran masing-masing. Hingga tatapan mereka bertemu, cukup lama mereka saling menatap dan Myungsoo pun mendekatkan wajahnya. Jarak mereka semakin dekat dan semakin dekat.
“Saranghae Son Naeun….” Myungsoo berkata, Naeun pun terkejut mendengarnya
“Mw..” Ucapan Naeun terhenti, ketika Myungsoo langsung memeluk tubuh mungil yeoja itu. Setelah itu Myungsoo pun melepaskan pelukannya. Pipi Naeun pun memerah dan terasa panas.
“Saranghae Naeun-ah….” Myunsoo berkata
“Nado saranghae Myungsoo-ah…” Naeun berkata
Naeun POV
Walaupun hatiku sudah hancur berkeping-keping. Aku merasakan kenyamanan saat berada di dekatnya. Aku memang sudah tersakiti oleh Minwoo dan Bomi. Namun saat dia menciumku, rasa sakit itu perlahan hilang dan mulai tumbuh bunga-bunga yang indah di hatiku. Aku tahu ini gila. Ya, Cinta memang bisa membuat orang menjadi gila. Ku harap, dia akan menjagaku dan menyayangiku tulus dan sepenuh hati. Akan aku anggap kejadian tadi adalah pelajaran untukku. Ku harap aku tidak akan tersakiti lagi. Semoga cinta kita abadi untuk selamanya. Aku mencintaimu Kim Myungsoo
Naeun POV end
Myungsoo POV
Aku tahu dia sedang bersedih. Bahkan bisa di bilang dia sedang jatuh. Hatinya sangat rapuh dan terluka. Aku tidak ingin melihatnya menangis seperti itu. Karena diam-diam aku mulai menyukainya. Dan saat dia jatuh dan terluka, aku datang membawa cinta dan kasih sayangku untuknya. Aku berjanji tidak akan membuatnya menangis lagi. Janji itu akan aku pegang sampai aku mati. Aku mencintaimu Son Naeun
©The End©
Selamat membaca....J.



0 komentar:
Posting Komentar